UTS alias Ujian Tengah Semester merupakan salah satu hal yang paling dibenci oleh para pelajar. Entah siapa penemunya. Kenapa UTS dibenci? Karena nilai UTS itu tertoreh didalam raport bayangan. Ehm, atau lebih pantas disebut raport blak-blakan. Para guru menaruh nilai hasil UTS mentah-mentah kedalam raport dan meminta orang tua untuk mengambil raportya. Sungguh perang dunia ke-3. Disini semua nasib murid bergantung pada pengawas.
Nobody’s perfect, right? Rangking 1 dikelaspun tidak mungkin bersih dari virus mencontek. 9 dari 10 pelajar pasti pernah mencontek saat ulangan. Sisanya mungkin yang tidak bisa baca. Banyak guru berkata bahwa UTS diadakan agar murid tidak kaget saat menghadapi Ujian Semesteran. Tapi bisa saja UTS diadakan agar sang pengawas puas melihat murid-murid yang mati kutu saat menghadapi soal dan mungkin hanya Albert Einsteinlah yang bisa menjawabnya. Ironis memang. Kita sebagai pelajar hanya bisa pasrah dan tetap memegang teguh peribahasa “Hidup itu seperti diperkosa. Kalau tidak bias melawan, ya nikmati saja.”
Setelah para orang tua melihat nilai memilukan di raport bayangan, biasanya mereka langsung menyuruh anaknya untuk mengurangi kegiatan diluar belajar. Akan tetapi ‘normalnya’ hal itu sama sekali tidak memacu kita untuk membuka pr dimalam hari. Itulah pelajar! Semakin disuruh, semakin malas.
UTS itu menyebabkan 2 neraka. Neraka pertama adalah saat kita ketahuan mencontek oleh pengawas, lalu sang pengawas member ‘note’ kecil dikertas ulangan kita yang bertuliskan ‘Mencontek lewat selembar kertas’. Dan pucak nerakanya adalah saat wali kelas memberitahu bahwa kita mendapat note itu dari guru yang mengoreksi. Tidak tahukah mereka bahwa untuk mencontek saja kita butuh perjuangan tinggi? Detak jantung sangat cepat dan hampir copot saat pengawas menghampiri meja kita. Nah sekarang neraka kedua. Neraka kedua adalah saat kita mengetahui bahwa nilai mid kita sama rendahnya dengan kodok yang lagi tiarap. Lalu kita berharap, berdoa, dan bersemedi agar sang guru menaruh belas kasihan dengan tidak menaruh nilai itu mentah-mentah di raport. Tapi takdir berkata lain dan jadilah gambar bebek berdiri tegap diraport bayangan. Yap! Nilai 2 yang menyilaukan mata.
Pada saat itu pasti semua orang tua langsung mengelus dada dan berpikir untuk memblender semua buku pelajaran serta menyuruh anaknya untuk menelan bulat-bulat. Padahal kita sudah bertapa digunung-gunung keramat untuk mencari pencerahan. Seandainya ada sekolah yang membagikan raportnya setahun sekali, pasti sekolah itu menjadi sekolah idaman atau sekolah terindah sepanjang masa. Semoga hal ini dipertimbangkan oleh dinas pendidikan haha.

0 komentar:
Posting Komentar