Jumat, 29 Juni 2012

Inikah Indahnya Perbedaan? (cerpen)

Diposting oleh OCS di 11.34
“Ada hubungan apa kamu sama dia?” tanya Charol sembari menahan air mata melihat kekasihnya berpelukan dengan wanita lain.
“Dia kekasihku.” Jawab Ahmad singkat.
“Dia siapa, Ahmad?” tanya wanita itu yang belum juga sadar kalau perannya adalah orang ketiga.
“Bukan siapa-siapa. Aku bosan disini” Ahmad menarik tangan wanita itu dan pergi meninggalkan Charol yang mungkin saja ingin menampar dan memakinya saat itu juga.
Charol masih memusatkan pandangannya kepada mereka yang berjalan semakin jauh hingga hilang dipandangan matanya. Tanpa sadar pipi Charol basah dan ia enggan menghapusnya. Ia berbalik badan dan berlari sekencang mungkin tanpa tau akan kemana. Hatinya sangat hancur.

“Aktingmu tadi bagus sekali, Ahmad. Seandainya tadi ada sutradara lewat, pasti kita dikira lagi syuting beneran. Hebat!” puji wanita itu dengan wajah terkesima.
“Ya. Itu memang keahlianku.” Ahmad termenung. Entah mengapa hatinya merasa remuk. Padahal memang ini yang ia inginkan. Membuat Charol menjauh.
Charol tersudut dikamarnya. Menikmati pandangan kosongnya seraya memeluk Teddy Bear kesayangannya yang sudah sangat basah karena tangisannya.
Ia mengambil ponselnya dan itu membuatnya semakin sedih.

“Tidakkah kau meminta maaf padaku? Apakah kau tidak menyesal? Sedikitpun?” batin Charol.
Dengan sigap ia mengetik pesan untuk Ahmad yang hanya bertuliskan dua kata. Yap.
“Kita putus.” (sent)
Charol langsung mematikan ponselnya. Ia tak ingin Ahmad mengira bahwa ia masih mengharapkan untuk dihubungi atau sekedar untuk meminta maaf.
Ahmad yang sejak tadi melihat fotonya bersama Charol terusik oleh dering ponselnya.
“Charol..” bisik Ahmad dalam hati. Ia begitu hancur melihat pesan darinya.
“Ah bodohnya aku! Apa yang sudah kulakukan? Bukankah ini yang kuinginkan darinya? Bukankah aku memang tak ingin dia terlalu mencintaiku? Mengapa aku merasa begitu kehilangan?”

Ahmad sadar ia telah menyakiti orang yang paling ia sayang. Ia menghempaskan tubuhnya kekasur dan memandang hampa pada langit-langit, kemudian ia menangis.
Ia mengambil ponselnya kembali. Nuraninya ingin sekali meminta maaf dan mengatakan bahwa ini hanya akting belaka. Ia ingin menjelaskan bahwa ia tak benar-benar selingkuh.
Dengan sigap ia menelpon Charol dan merasa tak sabar ingin menjelaskan semua.
Dalam hitungan detik ia menjatuhkan ponsel dari tangannya. Sedih bercampur kecewa menyadari Charol tidak mengaktifkan ponselnya. Ia sadar betapa Charol sangat membencinya saat ini.

“Bodoh! Dasar bajingan!” Ahmad memaki dirinya sendiri.
Ia menyalakan laptop dan mengirim pesan ke facebook Charol.

“Untuk kamu yang begitu kusayangi, aku ingin meminta maaf. Aku tau ribuan maafku tak mungkin menutup luka dihatimu. Aku tau tangis penyesalanku tak mungkin membuat kita mengulang semuanya dari awal. Aku hanya bingung terhadap hidup. Terhadap kepercayaan kita yang berbeda. Aku tak ingin kau menyayangiku begitu dalam. Kita tak mungkin menyatu selamanya. Aku teguh dengan kepercayaanku, pun dirimu. Untuk apa kita menjalaninya begitu lama? Bagaikan motor yang melaju kearah jalan buntu, ia pasti memutar arah. Kitapun begitu. Sebelum semakin jauh, dan kita tak bisa lepas. Aku hanya ingin kamu tau bahwa aku tak benar-benar ingin menyakitimu. Aku tidak selingkuh. Aku hanya ingin kau membenciku dan melupakan semua yang pernah terjadi diantara kita. Walaupun aku sakit mengatakannya, tapi kita memang harus berpisah. Aku tau caraku salah, tapi aku lebih tau bahwa kau sadar aku bodoh. Maafkan aku yang selalu mengecewakanmu dan jarang memberimu kebahagiaan. Bencilah aku semampu kau bisa, sayang. Aku akan tetap menyayangimu. Selamanya.”
With love,
Orang yang bodohnya tak terkira.

Charol yang sejak tadi melihat  album fotonya bersama Ahmad melihat tanda pesan masuk.
“Dari Ahmad..” batin Charol. Dengan perlahan ia membacanya.
Ia menangis kembali, bahkan semakin deras. Ia segera mengirim pesan balasan.
“Inikah indahnya perbedaan yang mereka bicarakan? Sebuta inikah cinta? Adakah tembok yang lebih kuat daripada perbedaan agama? Kita akan saling mendoakan, Ahmad. Walau doa kita berbeda.”
Dengan segenap kerelaan hati,
Pendoamu.


With Smile,

0 komentar:

Posting Komentar

 

OCS Template by Ipietoon Blogger Template | Design by Octoviana Carolina Sitorus