“Bagaimana kabarmu sekarang, Nat?” tanya Ryan dengan suara yang begitu lembut.
“Baik, seperti biasa.” Natalie masih menunduk. Tidak ingin mengangkat kepalanya dan menangkap mata Ryan.
Mereka terdiam cukup lama.
“Selamat ya.” Natalie masih menunduk dan menggenggam erat kertas pemberian dari Ryan.
“Iya. Bagaimana hubunganmu dengan Joshua?” Ryan mengalihkan pembicaraan. Tak ingin Natalie membahas tentang pernikahannya lebih lanjut.
“Kami sudah putus. Ternyata aku hanya dijadikan pelampiasan olehnya.” Jawab Natalie ketus.
Ryan mendekat.
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya Natalie gugup.
“Berikan kelingkingmu.” Ryan menyodorkan jari kelingkingnya kepada Natalie.
Natalie masih terdiam dan enggan menyambut kelingking Ryan.
Sepuluh menit telah berlalu. Ryan masih mengacungkan kelingkingnya namun Natalie tetap terdiam. Natalie tak kuasa membendung air mata. Ia langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan menangis sejadi-jadinya.
“Aku benci padamu!” Natalie melemparkan kertas undangan yang telah basah oleh air matanya kepada Ryan.
Ryan masih terdiam dengan kelingking yang bergetar. Ia mengumpulkan semua tenaga untuk dapat berbicara.
“Ingatkah kamu dengan kejadian dua bulan yang lalu? Disaat matahari mulai terbenam dan kita saling mengaitkan jari kelingking. Kita berjanji akan menghancurkan jurang ini bersama. Tapi jurang tetaplah jurang, Nat. Tak mungkin kita rapatkan. Aku dengan kepercayaanku, pun dirimu. Pindah agama tak semudah pindah ke lain hati, dan kita harus memilih pilihan kedua. Aku masih mencintaimu, begitu mencintaimu. Tapi kita tak bisa berpacaran seumur hidup, Nat. Kamu tak halal bagiku. Jika dengan membenciku kau bisa berhenti menangis, lakukanlah. Satu tetes air matamu adalah sepuluh tancapan jarum dalam hatiku.”
Ryan kembali mengatur pernapasannya. Tak mudah baginya untuk berbicara sambil menahan isak tangis. Natalie masih menutup wajah dengan kedua tangannya yang sangat basah. Ryan memberanikan diri untuk menyingkirkan telapak tangan Natalie dan memeluknya dengan erat.
“Berjanjilah kau akan tetap mencintaiku.” Isak Natalie.
“Jiwaku memang miliknya, namun hatiku tetap untukmu.” Bisik Ryan lembut.
Pundak Ryan sudah sangat basah oleh air mata Natalie namun mereka tak ingin melepaskan pelukan.
Seakan memancing kenangan untuk kembali dan menghisapnya kedalam otak.


0 komentar:
Posting Komentar