Menurut banyak orang remedial itu hanya untuk orang bodoh. Tapi menurutku tidak. Remedial itu untuk orang yang kurang mahir dalam menyelesaikan soal. Banyak siswa yang membalikkan senyumnya saat mengetahui dia harus remedial. Menurutku itu salah, karena seharusnya dia bersyukur. Jika dia remedial, berarti dia akan ‘belajar kembali’ dan mengerjakan soal itu lagi. Ingatkah kamu dengan peribahasa “Practice makes perfect”?
Nah kalau kamu ‘belajar kembali’ berarti kamu akan semakin hafal dan mengerti pelajaran tersebut dibanding teman-teman kamu yang tidak remedial.
Contoh: ulangan matematika Surti mendapat nilai 5. Sementara KKM adalah 7,5. Setelah Surti mengikuti remedial, nilai Surti beranjak menjadi 5,5. Karena belum memenuhi KKM akhirnya Surti mengikuti remedial lagi. Setelah mengikuti remedial kedua, nilai Surti beranjak menjadi 6. Ya peningkatan yang cukup perlahan. Tapi biasanya guru hanya memberikan 2 kesempatan remedial. Jadi walaupun nilai Surti belum mencukupi, dia akan diberi nilai 7,5. Nah sekarang kita hitung berapa keuntungan yang diperoleh Surti karena mengikuti remedial. Simak dengan perlahan!
Pertama, Surti akan lebih pintar. Dia telah mengulang pelajaran itu sebanyak 3 kali. Jadi otomatis dia akan lebih mengerti tentang pelajaran itu daripada teman-temannya yang hanya belajar sebanyak 1 kali alias tidak mengikuti remedial. Bahkan mungkin Surti sudah menghafal halamannya. Sungguh membanggakan!
Kedua, Surti akan lebih dekat kepada guru. Karena seringnya mengikuti remedial, maka wajah Surti tidak asing lagi untuk guru-guru. Setiap guru melihat Surti, maka dia akan teringat oleh nilai-nilai jelek Surti. Sungguh kenangan yang manis dan indah.
Ketiga, Surti akan disenangi oleh teman-temannya. Sifat surti yang polos dan bodoh membuat semua temannya senang untuk bergaul (menjahili) dia. Saat Surti dipalakin oleh teman-temannya, dia malah bilang terima kasih. Saat teman-teman Surti tidak membayar hutang, Surti malah memberi mereka hadiah. Bahkan saat teman-temannya menendang Surti, Surti malah membelikan mereka sepatu baru. Sungguh mulia hati sang Surti.
Dari tiga keuntungan yang diperoleh Surti karena remedial, dia pantas untuk dijadikan siswa teladan. Bagaimana tidak? Dia sudah memenuhi semua kriteria siswa teladan yaitu pintar, dekat dengan guru, dan disenangi banyak teman.
Jadi kesimpulannya, dengan mengikuti remedial kita bisa menjadi siswa teladan. Inilah sisi lain dibalik nilai anjlok. Ingatkah kamu dengan nasihat dari pahlawan bahwa “Merah itu berani”? Dengan memperoleh nilai merah dikertas ulangan berarti kita sudah menjadi apa yang pahlawan kita harapkan.
Bisakah kamu mengambil hikmahnya?”
Kamu tidak boleh benci pada hidupmu sendiri. Jadi mulai sekarang kamu tidak boleh nge-judge remedial itu sebagai sesuatu yang haram. Kotoran sapi saja kalau diolah bisa jadi pupuk kompos. Apalagi kalau nilai anjlok. Pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Kita jadi lebih mengerti kalau tanpa usaha yang sungguh-sungguh, kita tidak akan mendapat hasil yang kita harapkan. Tuhan memberikan kita otak untuk digunakan. Aku tidak melarang kamu untuk mencontek, karena semua orang pernah melakukannya. Tapi akan lebih indah lagi kalau kamu mengerjakannya dengan kemampuan kamu yang kamu miliki. Memang benar bahwa sekolah tidak afdol kalau tidak pernah remedial. Tapi pernahkah kau sadari bahwa kamu bisa melakukan yang lebih dari itu? Kamu punya sesuatu yang lebih berharga dibanding kertas contekan. Yap! Otak! Jika buku-buku yang ada dibelahan bumi dikumpulkan, itu baru 3/4 nya dari kapasitas otak manusia.
Lantas, mengapa kamu menyia-nyiakannya?
Memang awalnya berat untuk menghentikan kegiatan mencontek. Tapi perlahan tapi pasti, kamu pasti bisa menghentikannya.
Setidaknya, dari semua pelajaran disekolah, pasti ada salah satu pelajaran yang kamu suka. Misalnya jam istirahat atau jam kosong. Kamu coba kembangkan pelajaran itu. Contohnya Surti lagi nih. Surti sangat suka dengan pelajaran Bahasa Inggris. Dia terus mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya. Sampai latah saja pakai Bahasa Inggris. Perkembangan terakhir yang saya lihat dari dia, dia sudah bisa bicara ‘I love you’ ke pacarnya. Hebat bukan? Wah jadi out of topic begini.
Kesimpulan terakhir, kita harus bisa mengambil dampak positif dari setiap kejadian negatif. Kalau kita dikasih nilai jelek, maka sudah tugas kita untuk meningkatkannya. Kalau sudah usaha, ya tinggal doa. Ingat nak, keajaiban itu ada. Lagipula nilai bagus tidak menjamin sebuah kesuksesan. Banyak kok penemu-penemu yang dianggap idiot dan dikeluarin dari sekolah. Imajinasi adalah kunci untuk belajar dan mengingat. Lirik lagu yang sebarek saja bisa kamu ingat. Itu semua karena apa? Sering diulang! Tidak perlu menghukum diri sendiri kalau kamu mendapat nilai jelek.
Pelajaran hidup lebih berharga, kawan!

0 komentar:
Posting Komentar