Kamis, 10 Oktober 2019

Wonderful Stroke of Luck

Diposting oleh OCS di 16.01 0 komentar
Terakhir nulis potingan di blog itu Juni 2015 (udah lebih dari 4 tahun lalu ternyata) dan cukup banyak hal yang terjadi di hidup gue. Mulai dari gue wisuda di April 2017, sebulan kemudian dapet kerja jadi Back Office di Gumaya Tower Hotel (3 bulan tuh di sana), terus dikasih rezeki lagi buat lanjut kerja di BCA KCU Tegal selama 2 tahun dan sekarang gue lagi dibuat amaze sama kuasa Tuhan yang memperbolehkan gue untuk merasakan pendidikan di PT Pertamina (Persero) sebagai Management Trainee/BPS.

Sampai hari ini, banyak banget hal yang terjadi di luar dugaan gue. Apa yang gue pikir terbaik untuk gue, belum tentu terbaik menurut Kak Seto hehe kidding. Apa yang gue pikir terbaik untuk gue, ternyata masih biasa aja menurut Tuhan karena Dia udah siapin rancangan yang paling super duper mega maha terbaik. Gue sampai di titik di mana gue tertegun dan menyadari bahwa Tuhan baik banget buat memberi banyak hal yang gak pernah gue bayangin bakal dikasih ke gue.


“Remember that sometimes, not getting what you want is a wonderful stroke of luck.”

Gue mengalami banyak penolakan saat mencari kerja sebelumnya, gue ngerasain dari mulai gagal di wawancara akhir sampai harus bolak-balik antarkota yang memakan biaya. Putus asa, hampir nyerah, semua pernah gue alamin. Sampai akhirnya gue sadar, kalau ini semua “roller-coaster” dari Tuhan biar hidup gue gak flat. Biar ada gregetnya gitu. Semacam benteng takeshi, harus melewati banyak rintangan buat dapetin hadiah utamanya (ya kadang dikeplak sama bosnya benteng takeshi juga).

Di saat pergumulan, gue iseng nyetel lagu dan keputer tuh “Tuhan Tak Pernah Gagal”, liriknya bener-bener nyess dah. Nih ya gue ketik reffnya “Kupercaya Kau Tuhan yang tak pernah gagal, menjadikanku lebih dari pemenang. Kupercaya Kau Tuhan yang tak pernah lalai, menepati janji-janjiMu.”

Lagu itu benar-benar menguatkan gue. Seandainya lagu itu gak ada, mungkin gue masih menyalahkan diri sendiri buat semua kegagalan gue sebelumnya. Jadi, kalau lo merasa lagi di titik terendah di hidup lo, lo merasa serba salah, apapun yg lo usahain gak berakhir seperti yg lo inginkan, lo mulai merasa kalau Tuhan gak adil, bahkan lo tetep goyang-goyangin motor pas lagi isi bensin, tenang bro, cuma masalah waktu aja. Selalu ingat satu hal:


Pelaut yang handal tidak lahir dari ombak yang tenang.

Salam mitra olahraga! 

Selasa, 16 Juni 2015

Sama Mereka

Diposting oleh OCS di 22.29 0 komentar
Di-malam-hari-yang-tidak-rapat-ini, saya jadi rindu untuk ngeblog.

satu tahun sama mereka.
ber-25.
kalau ditambah 5 lagi jadinya 30 orang dan bisa membuat 5 tim basket.
oke, maafkan ke-absurd-an saya.

satu tahun sama mereka.
rasanya nano-nano.
iya, manis asam asin.
manis 100%, asam 0%, asin 0%.

satu tahun sama mereka.
kalau gak ngerasain sedih, katanya klise.
tapi ya gitu. manis 100%.
gak bisa ingat yg asam atau asin pas nulis ini.


hmm.. bentar, yang di atas tadi foto apa ya?
coba saya lihat nama foldernya deh.

aaah, ternyata ini foto sama mereka.
iya, mereka.
pengurus PMK 2014-2015.

Then..

Diposting oleh OCS di 21.51 0 komentar
Then, you should know that I’m not a girl you dreamt every night.
I’m not a girl that you would published in your social media.

Cause I’m not enough beautiful to be like that.
Not enough.

You would be shame.
You would be shame if you with me.

Cause, being adored is one of the best feelings in the world.
It’s glad that you have already feel it.

Aah, I hate it.
I hate your shine.
Please, stop it.
It kills.

Tulisan-ini-dibuat-saat-kelas-di-kampus-dengan-wajah-serius-menatap-presentasi-dosen-mohon-jangan-dianggap-serius-apalagi-dijadikan-referensi-makalah-terima kasih-untuk-kerjasama-Anda

Jumat, 10 April 2015

Secangkir Kata Untuk Bapa

Diposting oleh OCS di 08.25 0 komentar
Bapa, aku senang berjalan di taman.
Aku suka melihat mekar dan indahnya bunga.
Aku bahagia mendengar kicau burung bernyanyi.
Kuhirup udara di sekelilingku.
Hmmp.. Ah..
Semuanya indah. Semuanya sempurna.

Namun Bapa, suatu hari semuanya berbeda.
Bunga yang dahulu mekar, kini telah layu.
Semuanya hitam. Tak kutemui warna di sana.
Kelopak berguguran. Kering dan tandus sepanjang mata.
Aku tercengang. Namun aku belum juga menyerah.
Kucari burung yang suka bernyanyi; agar mereka menghiburku.
Aku berlari mencari mereka. Aku tergesa ingin bahagia.

Tapi Bapa, burung itu sudah tiada.
Aku tertunduk.
Pipiku mulai basah oleh aliran yang berasal dari ujung mataku.
Kuhirup udara di sekelilingku.
Hmmp.. Ah..
Aku masih bisa bernapas. Aku masih bisa berdiri.
Aku masih bisa bersuara dan mengatakan, “Puji Tuhan”

“.....apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?...” – Ayub 2:10

Minggu, 25 Agustus 2013

Terkunci Rapat.

Diposting oleh OCS di 22.33 1 komentar
Sekarang sudah jam setengah sebelas malam dan saya masih saja belum bisa tidur. Hari ini saya piket dan bertugas untuk mengunci pintu, baik pintu depan sampai pintu dapur. Dan mungkin juga.... pintu hati saya.

Terima kasih telah berbicara kembali denganku. Semua terasa dekat. Tapi maaf, ruang yang dulu kusimpan untuk namamu sudah terkunci rapat. Aku tahu semua kunci dapat dibuka tapi aku tak pernah mau memikirkannya.

Kata siapa cinta tidak bisa kadaluarsa? Kata romeo dan juliet? Benarkah? Bukankah akhirnya romeo dan juliet hanya kautemui dalam nama sebuah wafer?

Ah iya besok saya harus bangun pagi. Saya jadi ingat tiga tahun yang lalu. Saat saya selalu ingin untuk mendengar suaramu di pagi hari. Tapi maaf (lagi), sekarang semua berbeda.

Terima kasih telah membekukan hati. Mungkin, kau berbakat untuk bisnis kulkas. Selamat malam.

Rabu, 07 Agustus 2013

Orang Pintar Kalah Sama Orang Beruntung? I don’t think so.

Diposting oleh OCS di 10.08 5 komentar
Hola selamat pagi! Akhirnya ngeblog juga.. *bersihin jaring laba-laba di blog*
Pagi ini gue gak akan ngasih bacaan berat yang bikin pikiran mumet. Tenang aja, gue gak akan ngomongin inflasi bursa saham ataupun nama-nama pahlawan di Zimbabwe.

Kali ini gue mau curahin isi pikiran gue tentang doktrin manusia yaitu “Orang pintar kalah sama orang beruntung”. Dari judul postingan lo pasti udah tahu kalau gue gak setuju sama quote ini. Actually, semua manusia bebas berpendapat, begitu pun dengan gue.

Kenapa gue gak setuju sama quote “Orang pintar kalah sama orang beruntung” ?
Pertama, ini omong kosong. Tuhan itu adil bro. Kalau emang lo pintar, bekerja keras, dan rajin berdoa, maka sangat sangat tidak mungkin kalau semuanya itu akan sia-sia.
Tapi.. ada tapinya nih. Kenapa ada orang pintar yang kalah sama orang beruntung? Karena kebanyakan orang pintar, gak semua loh ya, hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Yups! Dia gak ingat sama Sang Pencipta. Si orang pintar terlalu ambisius atau bahkan mulai sombong. Gue yakin semua agama tidak menyarankan kita untuk sombong karna Tuhan dekat dengan orang yang rendah hati. Lalu, siapakah si orang beruntung yang berani-beraninya mengalahkan si pintar?

Menurut gue, orang beruntung itu gak ada. Kata bang soyid, keberuntungan itu adalah hasil dari doa orang-orang terdekat kita. Yang ada hanyalah orang tekun. Yap tekun. Tekun apapun. Tekun berusaha, tekun berdoa dan tekun-tekun lainnya. Lo pada masih ingat kan dengan kisah kancil dan kura-kura. Apa kancil pintar? Iya. Dan kenapa malah kura-kura yang menang? Apa karna dia beruntung? Engga! Bukan keberuntungan yang menyelamatkannya, tapi ketekunan.

Jadi plis, jangan langsung ngejudge orang dengan kata “Ah, dia mah beruntung doang.”
Orang pintar gak kalah dengan orang beruntung. Tapi orang pintar kalahnya sama orang tekun. Percayalah, ketekunan takkan pernah mengkhianati.

Keberuntungan tidak datang kepada orang yang mengharapkan, tetapi keberuntungan datang kepada orang yang bekerja keras.


Jadi, masih mau bilang kalau orang pintar kalah sama orang beruntung?

Tons of Thanks

Diposting oleh OCS di 10.06 0 komentar
Terima kasih terima kasih terima kasih.

Pertama, untuk Tuhan Yesus Kristus. Bapaku yang ajaib. Raja dari segala raja. Ribuan posting blog takkan mampu mewakili rasa bersyukur ini. Entah sudah berapa titik air mata yang tercurah karna mujizat-Mu Bapa. Puji Tuhan.

Kedua, untuk keluargaku. Bapak dan Mamaku yang selalu mensuport. Kakakku yang selalu sabar mengajari. Aku ingat ketika aku menangis saat membicarakan jurusan kuliah dengan keluarga. Aku ingat saat kakakku mengajari gelombang fisika dengan susah payah. Aku ingat ketika aku menangis saat menelpon Bapak ketika aku diterima SBMPTN. Aku ingat semuanya... manis sekali.

Ketiga, untuk teman-temanku. Terima kasih bimbingan belajar Primagama yang sudah membantuku untuk Ujian Nasional. Puji Tuhan hasilnya membanggakan. Terima kasih untuk bimbingan belajar KSM untuk bimbingan SBMPTN. Dan teruntuk teman-teman seperjuanganku.. terima kasih untuk membagi segalanya. Segala hal yang mungkin tak kudapat jika semua sesuai dengan rencana otakku.

Terakhir, terima kasih untuk semua orang yang pernah merendahkanku. Terima kasih karna kalian selalu mencemoohku saat aku belajar. Terima kasih untuk ribuan kata mustahil yang kalian lontarkan saat aku sedang berusaha. Kalian adalah pemacu semangat nomor satu.

Tak ada yang lebih manis dari janji Tuhan. Janji yang penuh kemenangan. Janji yang penuh kebahagiaan.

Selasa, 26 Februari 2013

Bahagia untuk ikhlas

Diposting oleh OCS di 17.30 2 komentar


Selamat sore, pangeran!
Apa yang sedang jemarimu lakukan?
Aku yakin kamu sedang menggenggam ponsel. Benar tidak?
Ada hal unik yang terjadi tadi pagi.
Hari ini, Try Out kedua, tepatnya pelajaran Matematika.
Aku datang ke sekolah lebih awal. Bukan, bukan perihal satpam yang ingin aku ceritakan.
Aku melihat ke arah ruang piket. Ada setumpukan kertas yang menempel di dinding.
Tertulis: Ujian Nasional tinggal 47 hari lagi.
Dengan angka yang sangat besar; seakan kita bisa membacanya walau sambil tertidur.
Waktu memang cepat berlalu.
Mungkin sekarang, sang waktu sedang istirahat dan minum sekaleng air isotonik karena saking lelahnya berlari.

47 hari kedepan, akan ada Ujian Nasional, lalu pengumuman kelulusan, perpisahan sekolah dan beberapa tes perguruan tinggi.
Kudengar kau juga berniat melanjutkan kuliah. Entah dimana. Nyaliku tak cukup kuat untuk melontarkan pertanyaan secetek ini.

Apa kau berniat melanjutkan studi ke luar kota? Tempat yang jauh. Jauh sekali. Sampai hembusan rinduku saja tak mampu untuk menyentuhmu. Aku takut.
Bukan takut tentang mitos hubungan jarak jauh. Bukan.
Apakah obrolan kita yang baru terjadi sekali bisa kusebut hubungan? Voldemort yang sedang jatuh cintapun, pasti menjawab tidak.

Tetaplah disana. Kebahagiaan memang tidak munafik. Tetapi kebahagiaan mengajarkanku untuk menerima kepahitan; dengan ikhlas.

Jadi, sudah berapa waktu yang kusia-siakan?

Jumat, 18 Januari 2013

[Komedi] Antara Ayam dengan Dinosaurus

Diposting oleh OCS di 14.37 0 komentar

Yak postingan ini dibuat tanpa memuat unsur promo tempat makan atau restoran cepat saji. Jadi ini murni hasil keisengan otak gue aja. Mari disimak.

Gue orangnya suka ngelamun, apalagi kalau lagi gak ada kerjaan. Nah saat gue ngelamun, tiba-tiba teman gue ngangetin dan bilang “Jangan keseringan ngelamun. Nanti ayam tetangga mati.”
Langsung terbesit dari otak gue tentang hewan bernama ayam.
Ayam sering kita jumpai di pasar, jalanan, sekolah (bekal makanan), jajanan, bahkan setiap tempat makan pasti ada menu ayam; entah digoreng, gulai, sampai rica-rica.
Satu hal yang gue pikir.
“KENAPA AYAM GAK PERNAH PUNAH?”
Gila! Setiap meleng dikit kita pasti ngeliat ayam. Sampai-sampai banyak restoran cepat saji kayak MCD atau KFC yang menaruh promo dalam menu ayam dan restoran itu gak pernah sepi pengunjung.
TAPI KENAPA AYAM GAK PUNAH-PUNAH JUGA??
Bahkan sekarang abang fried chicken sachetan udah mejeng di setiap sudut ruko.
Belum lagi Royko ada rasa ayam, sosis juga, bahkan orang latah aja nyebutnya kata ayam (baca: Ruben Onsu).
Ayam, ayam dan ayam. Semua mengidolakan ayam. Upin-ipin apalagi.

Apa kalian semua gak memikirkan bagaimana nasib hewan lainnya?
Yak! Dinosaurus!
Kita gak pernah makan dinosaurus, gak ada bumbu masak rasa dinosaurus dan upin-ipin pun gak makan dinosaurus.
TAPI KENAPA DINOSAURUS YANG PUNAH??
Dinosaurus selalu diintimidasi selama hidupnya. Berbeda dengan ayam yang selalu terlihat lezat (terutama kulit ayam goreng; itu sumber kekhilafan).
Bayangin aja, selama hidupnya dinosaurus selalu dicecar dan dibunuh manusia. Lo semua pasti pernah nonton film legendaris itu kan? GODZILLA!
Padahal pembunuhan ayam dan dinosaurus pasti lebih besar pembunuhan ayam.
(Iyalah, siapa juga yang mau makan ayam hidup-hidup?)
TAPI KENAPA GODZILLA YANG PUNAH? BUKAN SI AYAM?

Menurut insting detektif gue, ada kesenjangan hubungan diantara ayam dan dinosaurus.
Coba lo ingat-ingat ya, saat dinosaurus terperangkap di jalan raya dan semua polisi siap siaga membunuhnya, lalu datang sebuah truk yang menumpahkan ikan gembung lalu dia makan di jalanan. Masih pada ingat kan? Nah, gue menangkap kejanggalan disitu. Tempat dinosaurus tertangkap kan di jalan raya, dan gue yakin di Amerika sana pasti banyak banget restoran cepat saji. Tapi kenapa dinosaurus malah makan ikan gembung? Bukannya makan ayam? Gak pakai piring pula. Emangnya dia gak diajarin sopan santun sama orang tuanya?
Sampai sekarang gue belum tau jawabannya karna gue juga gak bisa bahasa dinosaurus.

Ayam mulai merajai kancah kartun kayak ‘Chicken Little’ dengan kisah yang lucu dan inspiratif.
Tapi apa yang diperbuat dinosaurus?
DIA DIHINA DENGAN SOSOK BAYI DINO DALAM KARTUN DORA!
Gile, coba lo pikir-pikir, dinosaurus itu sosok yang tangguh, perkasa, seram, tapi dalam sosok bayi dino di kartun dora; dia dibuat kecil, lemah, dan UNGU!
Gue ngerti segala kegalauan dan perih hati yang dialami dinosaurus. Mungkin karena itu sekarang dia sudah punah. Pasti setelah dihina dan dicampakkan, dinosaurus meminum racun tikus dan keracunan di kamarnya sambil meninggalkan sepucuk surat. Tragis.

Padahal kalau direnungkan, dinosaurus itu hewan yang sangat berguna. Dia besar dan tangguh. Jika nanti ada banjir besar atau badai, kita bisa menungganginya sebagai alat transportasi. Kalau untuk dimakan pun juga gak habis-habis. Telurnya aja segede gaban, jadi kalau emak-emak belanja telur dinosaurus di pasar, telurnya gak mungkin pecah karena alasan ketabrak tukang becak.
Kalau ayam? Apa dia bisa kita tunggangi? Enggak kan?

Gue punya pesan terakhir untuk ayam dan dinosaurus: kalian yang akur ya. Jangan pulang malam-malam. Jangan sampai telat makan. SPP dan Uang Kost jangan sampai telat dibayar.
Pesan gue gak jelas? Ya masa bodoh. Toh mereka juga gak bisa baca.
Sekian dan terima kulit ayam goreng.

Entah siapa yang mau memakannya..

Rabu, 16 Januari 2013

Surat Cinta Anak RPL

Diposting oleh OCS di 21.44 6 komentar


Hai, kamu.
Terima kasih telah membiarkan kedua bola matamu menjamah surat bodoh ini.
Tenang saja, aku takkan memberimu ribuan istilah yang membuatmu memeras otak.
Aku takkan membentakmu dengan jutaan script dan syntax yang bisa membuatmu mual.
Percayalah, aku berbeda dengan yang lainnya.

Banyak surat yang datang sebelum aku dan sepertinya mereka lebih kaukagumi.
Surat dari Anak IPS membuatmu mengerti tentang bumi dan bisnis.
Sementara Anak IPA di luar sana mungkin telah membuaimu dengan laju reaksi.
Kau mungkin belum begitu mengenalku.
Kawanku, TKJ dan MM, pasti lebih sering kaudengar.

Selamat datang pada jurusanku yang asing ini. RPL.
Walaupun namanya Rekayasa Perangkat Lunak, percayalah bahwa tak semua hal berbau rekayasa itu buruk.
Aku membuat banyak program, design website, pengolahan data namun masih saja tak bisa menaklukkan hatimu.
Aku sering memecahkan pesan error, namun menyapamu saja tak berani.

Kau berbeda.
Kau bukan gerombolan script error yang mengisi kepalaku dan seringkali membuat gigiku menggeretak.
Kamu adalah kamu.
Namamu bagaikan script magis yang tak bisa logikaku terima.
Sebentar.. pesan errornya sudah muncul.
Dia bilang, “Maaf script yang Anda masukkan terlalu indah!”
Ah, mungkin komputerku juga jatuh cinta padamu.

Untung saja dia belum pernah melihat senyummu.
Karna jika iya, aku yakin bentuk monitor bukan lagi kotak. Melainkan hati.
Sudahlah, berbicara tentang surat cinta takkan ada habisnya.
Aku selalu melakukan hal yang sama; mencintaimu, merindukanmu, dan mengagumimu.
Kamu pun selalu melakukan hal yang sama; mengabaikanku.

Salam hangat dari hati yang dingin,
Aku.

Minggu, 30 Desember 2012

Makna Terpendam dari Lagu Jack Bahlul

Diposting oleh OCS di 15.40 0 komentar

Sekarang gue lagi pengen ngulik tentang lagu legendaris yang ampuh membuat perut mules karena ketawa. Awalnya gini, gue lagi main di rumah temen gue. Kebetulan mamanya pecinta lagu dangdut. Di cover CD itu ada gambar dua cewek; yang satu duduk di kursi dan satu lagi nemplok ngasal di pinggiran kursi. Tulisannya: “2 Racun. Jack Bahlul.”
Cewek paling depan: "Eh udahan belom? Gue kebelet nih.."
Pertamanya gue pikir, “Ah, ini pasti lagu dangdut biasa”. Yang umumnya si penyanyi dangdut akan naikin satu kakinya ke kursi dan ngibasin rambut mereka; entah maksudnya pengen ngeringin rambut atau pecinta aliran metal lalu penonton-penonton pria yang di bawah mereka akan merekam semua adegan tanpa berhenti ngences. Beberapa menit kemudian temen gue nyamperin dan mergokin gue lagi megang CD dangdut itu, lalu dia stel. Awalnya intro dangdut biasa, yaa so far so good lah. Setelah lagunya mulai, gue terkesima. Bukan, bukan karena si penyanyi dangdut mulai lepasin kaus kutang. Tapi karna liriknya. Kayak gini:

Jack kenapa kamu jack pacaran lagi dengan temanku
Jack kenapa kamu jack kamu selingkuh dengan sobatku
Jadi sebenarnya si Jack itu pacaran atau selingkuh?
Gue pikir nantinya akan ada sahutan dari vokalis cowok sebagai jawaban atas awal lirik ini, tapi ternyata gak ada. Lanjut.

Katanya cintamu sehalus sutra, katanya janjimu sekuat baja
Ternyata hanyalah sekulit ari, kau buat diriku sakit hati
Jack hati-hatilah jack, kamu sudah sumpah disamber geledek
Tadi pertamanya dia marah-marah, sekarang malah melow. Tapi endingnya malah ngancam. Frustated.

Bahlul cintamu bahlul, dasar kamu tukang ngibul
Kau makan kau sikat temanku nyolok mata nyolok

Disini gue makin bingung. Mungkin si pencipta lagu udah stuck dan bingung mau nge-reff pakai apa. Kenapa harus nyikat teman? Kenapa harus nyolok mata? Emang temannya biasa nyikat gigi sambil nyolok-nyolok mata?

Bahlul janjimu bahlul kamu tidak pernah betul
Hampir-hampir aku frustrasi makan sabun mandi
Ini endingnya. Kalau ending lagu itu biasanya romantis dan remember-able, tapi ini beda. Tiga kata terakhirnya menyentuh banget: Makan Sabun Mandi.

Akhirnya gue bisa nangkap maksud dan tujuan si pencipta lagu.

Si pencipta lagu sedang bimbang karna habis dibohongin si Jack. Tepatnya si Jack selingkuh dengan sahabatnya. Entah sahabatnya si rekan 2 Racun atau bukan, yang pasti si Jack udah nyikat sahabatnya dan nyolok-nyolok mata. Hingga kini gue gak tau mata siapa yang dicolok. Saking marahnya si pencipta lagu kepada Jack, dia nyumpahin Jack kesambar geledek. Tapi ternyata si Jack gak kesambar geledek. Si pencipta lagu makin galau, frustasi, dan akhirnya makan sabun mandi. Selesai. Berakhir sudah dendamnya pada Jack Bahlul. Lagu dangdut yang cukup horor rupanya.

Kamis, 20 Desember 2012

Semoga Kita

Diposting oleh OCS di 20.32 0 komentar

Semoga aku bisa membentengi matamu dari panah wanita yang hendak merenggut hatimu.
Semoga malaikat cinta memberikan biusnya kepadamu dan memuntahkannya pada wanita yang kuharap hanya aku.

Semoga ada waktu bagi kita, menikmati pagi bersama, membiarkan cangkir kopi menjadi saksi atas renyah tawa dan cara kita melewati rumitnya masa lalu. Menyanyikan lagu kita dengan lantang diiringi dentingan tetes embun. Menghiraukan kicau burung yang mengalah terdiam.

Semoga ada waktu bagi kita, berpeluh dengan teriknya matahari, bertukar lelah dan cerita kala aku bersender di bahumu. Menceritakan kesialan kita yang tak pernah kita sesali.

Semoga ada waktu bagi kita, mencandu indahnya perisai malam, memutar musik klasik dan menari bodoh di bawah sinar bintang. Menyusuri trotoar dan menertawakan segala hal, bahkan yang tak lucu sekalipun. Saling menangkap mata di bawah teduhnya rembulan.


Untukmu yang selalu ada dalam daftar semogaku,
Semoga ada detik dan hari yang tercipta untuk kita. Tepat disaat kita saling menyatu dan tak melepas genggaman. Tak peduli pada jutaan pasang mata yang mencoba menilai.

Semoga ada bulan dan tahun yang tercipta untuk kita. Saat kita masih saling bertukar rasa. Membasahi pipi kita dengan air mata kala kita harus berpisah sejenak.
Tetap mencinta hingga keriput membungkus kulit. Tetap mencinta hingga malaikat menjemput salah seorang kita.

Selasa, 18 Desember 2012

Satu Jengkal Dinosaurus

Diposting oleh OCS di 17.31 0 komentar

“Kiri bang,” aku memberhentikan angkutan umum. Peluhku balapan menetes mengaliri tubuh. Ah.. sudah biasa.

Aku berjalan cepat dari gang menuju rumah. Rindu sekali rasanya melihat kasur yang terpojok dan tak berdaya itu. Aku mempercepat langkah, semakin cepat, namun tak sampai loncat dari pohon ke pohon seperti film Twilight.

Dalam perjalanan dari gang ke rumah, banyak sekali yang sudah aku lewati. Ada seorang tukang pecel yang sedang bertelepon dengan loudspeaker dan membicarakan gosip Musdalifah, ada lagi dua anak kecil berkaus kutang dan berlarian entah mengejar apa. Mungkin mereka sedang berebutan Snack Susu Realgood yang begitu nikmat jika dikenyot.

Ada lagi seorang lelaki yang berjalan dengan menunduk dan... eits! Aku mengenalnya! Langkahku terhenti, mulai mendetilkan wajahnya dari jauh. Wajah itu tak asing. Aku memutar mesin ingatan di otakku. Ah iya.. dia pujaanku. Dulu, saat aku masih berseragam merah putih.

Hahaha dia bukanlah cinta pertamaku. Saat aku mengaguminya dulu, tak ada sepatah kata cinta yang terucap. Mungkin dia cinta ke-nol-ku. Cinta yang ada saat kita belum mengerti apapun tentang cinta. Aku masih menikmati wajahnya. Dia berdiri di dekat tiang listrik. Harusnya ada lagu romantis yang terputar saat ini. Tapi apadaya, tukang tape dengan lagu dangdutnya terlalu tega merusak suasana.

Aku kembali mengamati sosoknya. Terlihat lebih tampan, batinku. Aku sempat berkhayal bahwa dia akan menghampiriku dan beberapa penari latar mengikutinya dari belakang. Lalu dia menyerahkan bunga dan kita memutari pohon bersama. HAHAHA! Dia masih sibuk dengan ponselnya. Kupikir dia sedang menunggu teman. Langkahku mendekat. Kini aku hanya berjarak satu jengkal dinosaurus darinya. Aku menunggu lima detik, dia masih terdiam. Aku menunggu lima menit, dia masih juga terdiam. Aku menunggu lima windu... eh, lima windu itu berapa tahun ya? Aku membuyarkan lamunan. Lagi.

Aku mulai cemberut melihat dia tak bereaksi. Haruskah aku memutar-mutar di depannya dan bernyanyi “Telepon aku.. tujuh dua tujuh enam kali..”
Tapi tunggu, hey dia bergerak! Dia melangkah menuju warung. Membeli sesuatu dan pergi membelok. Aku mengamati punggungnya lamat-lamat. Mungkin dia sudah lupa padaku. Mungkin dia sudah lupa pada wanita yang telah menumpahkan mi sakura ke bajunya di kantin SD. Mungkin juga dia lupa tentang seorang wanita yang setiap bel pulang sekolah berdiri di samping kelasnya hanya untuk melihatnya tertawa secara diam-diam. Biarlah..

Layaknya teh manis yang hanya nikmat jika diminum selagi hangat, maka indahnya mengagumi adalah saat kita masih saling mereka-reka satu sama lain.

Sabtu, 01 Desember 2012

Untukmu, Kekasihnya.

Diposting oleh OCS di 22.09 1 komentar


Aku tak sedang menulis surat cinta. Berlaksa-laksa cupid paham akan hal itu. Ada yang aneh saat namamu terucap dari bibirnya. Terkesan manis, namun mematikan. Dia memanggilmu pelan, setengah berbisik, namun kau membalasnya dengan sapaan sayang. Aku memanggilmu kencang, terkesan memalukan, dan seperti yang selalu terjadi, kau tetap tidak menoleh.

Kudengar dia kekasihmu? Cantik. Senyumnya indah, kata-katanya mampu membuat jiwamu memuja akan dirinya. Tatapan matanya telah membuatmu bertekuk lutut. Keindahannya membuaimu, menggilaimu, dan membutakanmu. Sekarang kau menang. Menang atas kehancuran. Bukan dunia yang hancur, bukan. Hatiku jawabannya.

Aku tak sedang sendiri. Banyak yang menemaniku, bayangmu contohnya. Aku tak pernah lupa memasukkan senyummu dalam setiap helai mimpi. Aku tak pernah lupa menciptakan khayal kala malam mulai larut. Aku tak lupa memenjarakanmu dalam rindu saat derai hujan turun. Aku tak pernah lupa. Apa yang bisa kulupakan dari sosokmu? Gila! Aku memang tergila.

Aku mengerti kita berbeda. Cinta memang tak pernah bisa dipaksa untuk sama. Bisakah kita menuntut hal yang kita sendiri tak tentu paham?

Ada sosoknya dalam dirimu. Mungkin juga dalam doamu. Pernahkah terlintas di kepalamu tentang arti dari menunggu? Aku yakin tak pernah. Kenyataan yang memberitahuku. Ajari aku cara menunggumu, menunggu yang tak jelas akhirnya. Ajari aku tentang perilaku bodohku, membayangi setiap langkahmu saat bersamanya.

Kini aku lelah. Kata ‘sabar’ sudah menjadi mati bagiku. Aku begitu lelah. Bola mataku bukan tercipta untuk melihatmu bersamanya. Banyak hal lain yang menungguku.
Pasti kau tak percaya kalau aku juga sedang ditunggu, kesepian contohnya.

Sabtu, 24 November 2012

Tak Ada Lagi Kita

Diposting oleh OCS di 21.09 0 komentar


Ada yang aneh saat aku melihat namamu di sudut kamarku. Aku meniup debu yang sudah lama menutupi nama indahmu. Terlihat usang oleh goresan tinta merah muda yang membentuk gambar hati. Namamu ada di dalam gambar itu. Terlihat manis, sekilas. Sebelum aku sadar bahwa kita sudah lama tak saling bertukar rasa.

Aku terus memperhatikan huruf demi huruf yang membentuk sebuah nama. Nama yang dahulu menjadi pusat perhatian dari segala jenis waktu yang aku punya. Aku takkan menuliskan namamu disini. Cukup hatiku saja yang selalu kau penuhi.

November. Bulan kelahiranmu. Hari jadimu memang bukan hari ini. Sudah terlewat cukup jauh untuk hitungan jam. Aku tak mengucapkan apapun, karna aku tau, kau takkan pernah memperdulikan ucapanku. Aku hanya berdoa, memejamkan mata dan menghembuskan rasa perih saat ingatan wajahmu mulai menjamah otakku.

Aku sampai lupa kapan terakhir kita berjumpa. Apakah itu sudah cukup membuktikan betapa aku ingin segera lupa akan dirimu? Tidak tentunya. Hatiku bagai sebuah gurun pasir, dan kamulah oasisnya. Kamulah detak kehidupan, yang tak ingin lagi kuingat.

Pertemuan pertama selalu menimbulkan kesan bodoh. Mungkin kalimat tadi hanya pantas terlempar untukku. Aku berjalan, mencoba mengajakmu berbicara. Sementara kamu berjalan, lebih cepat, dan membelokkan arah saat mulai menjawab semua pertanyaan tidak pentingku. Aku menghentikan langkah. Melihat punggungmu yang mulai hilang dari pandangan mata. Senyum getirku melengkung.

Aku masih belum menyerah. Mengajakmu berbicara dilain hari, membincangkan hal yang selalu saja kau anggap idiot, dan menertawai hal yang tak pernah kau tertawakan. Aku sadar kita berbeda. Tatapan dinginmu cukup menjelaskan semuanya.

Aku masih saja belum menyerah. Bertahan tidak tidur demi menunggu detik hari jadimu. Mengucapkan dengan ragu karna takut ada orang lain yang kau harapkan untuk mengucapkan pertama kali. Aku takut, kubatalkan niatku. Aku mengucapkannya di pagi hari dan mendapati kau tidak membalasnya hingga larut malam.

Oktober. Bulan kelahiranku. Saat itu aku masih tergila dengan sosokmu. Aku menunggumu, tengah malam itu, menanti namamu hinggap pertama di kotak masukku. Malamnya aku tersadar, kau sama sekali tidak mengingatnya. Dengan bodohnya aku menunggu hari berikutnya, hatiku memberi belaan kepada dirimu takut saja kemarinnya kau sibuk. Tetapi semua nihil. Sudah lima tahun aku menunggumu, dalam setiap Oktober yang kunanti, tapi kamu tak pernah mengucapkannya sama sekali.

Selamat tinggal kepahitan. Aku tak sedang merasakan yang manis, karna waktu yang akan menunjukannya padaku. Selamat tinggal kamu, kita yang tak pernah ada, kita yang hanya barisan mimpi.

Minggu, 18 November 2012

Jangan lupakan ini.. Jangan!

Diposting oleh OCS di 17.03 0 komentar

BHAHAHAK!
Gue mengawali postingan ini dengan tertawa. Yak, gue punya pedoman baru: ‘Tertawakanlah masalahmu’.
Gue sekarang lagi ngetawain rasa capek gue. Semua berawal dari ini..
Dari hari kamis, gua udah sibuk banget. Bantuin acara nikahan saudara dan opung gue yang lagi mampir ke Bekasi. Tapi gue tetep nikmatin rasa capek gue, toh jarang-jarang kan keluarga ngumpul gini.
Hal yang menyorot perhatian gue adalah acara pernikahannya. Baru kali ini gue nyaksiin acara pernikahan di gereja langsung. Iya, biasanya di sinetron. Ini dia altarnya:
Minta dikhayalin banget ya..
Megah dan romantis. Tapi bentar.. ada hal yang masih gue renungin sampai sekarang. Kenapa setiap pengantin wanita menikah harus pakai gaun warna putih? Apa karena warna putih itu melambangkan segala yang baik? Atau biar keliatan seandainya mati lampu? Entahlah. Gue jadi mikir, gue kan sukanya sama warna coklat, jadi kalau nikah nanti gue gimana? Makai gaun coklat? Ah mana boleh. Atau pendetanya ngeberkatin gue sambil makan coklat? KHAKH!

Setelah acara pernikahan gereja, gue tetep sibuk. Ada kumpul keluarga yang mengharuskan gue menginap. Ini yang membuat gue bimbang. Rumah saudara gue di daerah Kalimalang, nggak jauh. Tapi entah kenapa yang namanya nginep dirumah orang lain (biarpun saudara) gue pasti susah ngapa-ngapain. Gue susah berak! Ini pahit. Pahit banget. Gue cuma bisa berkentut lirih tanpa mengeluarkan ampasnya. Dan satu lagi, gue susah galau! Kemarin malam ada hujan deras. Gue udah dapet feel buat bikin cerita tapi gue gak punya perkakas. Laptop dan buku gue ketinggalan. Ibarat perang, posisi gue sekarang sudah gencatan senjata dan menunggu untuk dibom.

Selesai acara keluarga, gue langsung pulang. Sampai di rumah, gue beberes. Ngelap, nyapu, ngepel, nyuci piring dan lain-lain sampai hal yang ditunggu tiba. Iya, akhirnya gue berak. Lega banget. Gue seneng bukan main. Cacing-cacing di WC gue pada joget ganggnam. Habis mencurahkan isi hajat, tubuh gue lemes. Rasanya kayak habis disedot dementor.

Selesai ngerjain itu semua gue baru nyadar kalau daritadi orang tua gue belum pulang dari pasar. Lama banget. Gue curiga mereka berniat menukar gue dengan sekilo jengkol. Saat mereka pulang, gue langsung ngecek belanjaan. Yes! Ternyata mereka gak beli jengkol. Cacing di WC gue kembali joget ganggnam.
*menghela nafas dengan unyu*
Intinya gue dapat pelajaran berharga: Jangan lupa berak sebelum berpergian. That’s it!

Rabu, 14 November 2012

Bila Cintaku Takkan Mati

Diposting oleh OCS di 22.02 0 komentar

‘Cause you’re amazing. Just the way you are..’
Dering telepon genggam cukup menjadi alarm dadakan yang sempurna. Aku berjalan malas menuju meja kecil di arah jam dua belas, sumber dering teleponku. Nokia C2-01 yang casingnya sudah berkarat masih belum menghentikan deringnya. Bola mataku saling melempar malas untuk membaca panggilan masuk. Lima detik kemudian aku terbelalak.
‘Veronica!’ tanganku langsung mendapat tugas untuk mengucak mata. Aku membacanya ulang, berkali-kali, bahkan mengeja hurufnya. Jantungku berdebar sangat cepat seperti pengendara bajaj yang sedang mengikuti balapan F1. Ini diluar dugaan, rekor MURI, catat tanggal, liat primbon, beragam imajinasi bodoh mulai beradu kata dipikiranku. Aku kembali tersadar dengan tamparan empuk yang terdampar dipipi kananku, tamparan dariku tentunya.

‘Ah! Apa saja yang sedang kupikirkan? Telat mengangkat satu detik saja adalah dosa bagiku.’ Aku menghela nafas panjang. Ingin rasanya mengambil permen mint agar suaraku terdengar tampan dan nafas bau ilerku tak tercium diseberang sana. Detik ini juga aku ingin membenarkan semua peribahasa yang mengatakan ‘Orang yang paling bodoh sedunia adalah orang yang sedang jatuh cinta.’ Aku mengenggam yakin telepon genggamku. Aku masih menyimpan ragu. Keluarlah sebuah ide bodoh untuk membuat percakapanku ditelepon terdengar romantis. Aku melihat sekeliling untuk melacak keberadaan radio kecil peninggalan nenek.
‘Ketemu!’ aku langsung memainkan lagu romantis melalui kaset dilanjutkan dengan menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat. Ibu jariku gemetar untuk menekan tombol jawab panggilan.

‘Halo.’ Ah bodohnya aku! Memangnya dia sedang bertelepon dengan Bapak Presiden? Mengapa aku begitu kaku? Aku mencaci diri dalam hati.
‘Reza, aku punya kabar bagus.’ Suara Veronica terdengar begitu lembut. Aku tersenyum bodoh dan membayangkan bahwa Veronica sedang memakai sayap. Mungkin telepon genggamku sedang jatuh cinta juga padanya.
‘Ohya? Apa itu?’ aku kembali mencaci diri. Suaraku terdengar tidak jantan, cenderung gemulai.
‘Semalam aku jadian. Dengan Rino, sahabatmu.’
Hening. Kakiku lemas. Hanya butuh tiga detik bagiku untuk menghempaskan telepon genggam. Aku menerawang jauh. Pipiku basah.
Radio kecilku masih bersuara,
‘Meski kau terus sakiti aku. Cinta ini akan selalu memaafkan. Dan aku percaya nanti engkau, mengerti bila cintaku takkan mati..’

Selasa, 13 November 2012

Surat Kecil Untuk Hujan

Diposting oleh OCS di 13.11 0 komentar

This picture created by Syauqi
Hujan, aku lelah memendam rasa.
Mencoba ‘tuk patahkan tongkat sepi saat senyumnya tak terjamah mataku.
Mencoba ‘tuk runtuhkan benteng rindu kala bayangnya tak mampu lagi kukejar.
Mencoba ‘tuk kokohkan cinta fana yang hanya berfondasi kebimbangan.

Hujan, tahukah kamu akan kabarnya?
Bisakah kau melihat rekah senyumnya?
Sejauh apa dia? Hingga teriakan hatiku tak pernah terdengar?
Sejauh apa dia? Hingga namaku tak pernah terngiang di otaknya?

Kurasa disana kamu juga turun.
Membasahi pundak hangatnya dan membiarkan dingin memeluknya.
Jangan menyentuhnya, Hujan. Aku cemburu.
Jangan membiarkannya dingin, karena lenganku tak mungkin bisa mendekapnya.
Jangan membiarkan lengan lain memeluknya. Aku mohon jangan.

Mengapa kau hanya diam, Hujan?
Kau hanya menurunkan air, namun tidak kata cintanya.
Kau hanya mendesirkan angin, namun tidak tatapan hangatnya.
Dan kau hanya meneriaki petir, yang membuatnya menutup telinga.
Mungkin juga hatinya.
 

OCS Template by Ipietoon Blogger Template | Design by Octoviana Carolina Sitorus